Teruntuk 2003

Wednesday, August 03, 2005

Ketika kita sampai pada suatu akhir
dan didalamnya aku bisu
begitupun adanya kamu
karena kita telah tahu akan adanya alasan
tapi hanya entah yang mengalir dalam rongga penuh perih
hanya kenapa.. mengapa..
dan kemudian kecupan
lalu kita berlari jauh tinggalkan norma

Dan sekarang aku pun terus berlari sendiri
mengejar jawaban itu untuk kemudian menunduk sejenak
Dan di tiap jejak langkah yang kutinggalkan
Di tiap tetes keringat yang aku kucurkan
Di tiap helaan nafas terengah
ada buih dingin tinggalkan bekas memutih
dan saat aku siap berlari lagi
hanya terang yang kulihat
dan aku pun tersenyum
tak ada penyesalan


Menyesal adalah musuh terbesar seorang saya dalam hidup. Dan sampai sekarang rasa tersebut terus saya jaga. "geeh, koe kie piye tho. Lanang kho ra iso numpak motor!! banci tenan koe.. whuahuhauhuahuahua...", ujar teman saya. Saya hanya menjawabnya dengan perasaan penuh bangga( mungkin lebih tepatnya tidak tahu malu.. ahiahiaihiaiahihaia) "ehmm.. saiki ngene aee dab, lanang sing iso numpak motor kie wes mayoritas, lha saiki lanang sing ra iso numpak motor kie minoritas tho? lha.. dimana-mana itu kaum minoritas lah yang mendapatkan sorotan paling banyak dan paling disaluti, jadi aku yo bangga menjadi salah satunya :D", jawabku.

*hening*

*gdubrakxz*

*saya garuk-garuk kepala*

*saya bingung, hub.nya sama puisi diatas apa yah?*

*hening again*

*gdubrakxz again*