Malam di Djendelo
Friday, August 05, 2005
Malam ini adalah malam pembacaan puisi serta akustikan dengan iringan gitar dan biola di Djendelo Koffie and Thee yang terletak di lantai dua toga mas. Tema yang diangkat adalah sex. Aku datang bersama Donny (yang bukan teman gay saya!!). Aku pun tidak lupa turut berpartisipasi dengan membacakan puisi temanku Suryo. Karena pada malam sebelumnya aku dan suryo telah membuat kesepakatan untuk membuat puisi. Suryo membuat puisi tentang seorang gay yang dibacakan oleh aku, dan aku membuat puisi tentang sex emperan yang dibacakan oleh suryo. Tapi aku lupa membawa puisi suryo yang aku bacakan pada penutupan acara tersebut yang diakhiri dengan kecupan di pipi kanan serta kiriku oleh Kevin sang pemilik kupisop (and for God sake, he`s a man!! ahiahihiahiahia). Ini adalah puisi yang aku buat yang dibacakan oleh suryo dengan penuh semangat , mungkin karena ia pernah mengalaminya sendiri, gyagyaggyagyagya!! Enjoy!!kamis malam.. pada malam yang perih.. pojok kamar magenta
debu dan asap bus laknat itu masih terus meraja
timin.. masih bermalas dibecaknya sambil menyumpah
sriti.. melirik tersipu sambil benarkan rok mininya siang hari..
pada sabtu yang busuk dipojok pasar minggu
handuk buluk bau dan kemben berwarna ungu
keringat puluhan kilo dan gincu berlebih
bergumul mereka menyatu bagai dimensi abstrak
siang hari.. pada sabtu yang busuk dipojok pasar minggu
vagina sriti.. tampak pucat tapi telah basah
tanpa foreplay.. penis timin yang berdaki menerobos
desahan nikmat mereka.. tampak aneh dialas kardus itu
siang hari.. pada sabtu yang busuk dipojok pasar minggu
bibir timin yang hitam.. ganas bermain ditetek sriti
tangan sriti.. tampak pasrah terikat di leher timin
timin.. hanya duduk mengangkang dan sriti diatasnya
siang hari.. pada sabtu yang busuk dipojok pasar minggu
debu, daki, dan keringat mereka semakin menyatu
pada menit kesembilan.. timin telah mengejang
pejuhnya pun.. tampak nyaman bersarang.. dan sriti diam
siang hari.. pada sabtu yang busuk dipojok pasar minggu
timin.. menyalakan rokok puntungnya dengan seringai puas
sriti.. tetap diam sambil kantungi celana dalam diroknya
sepuluh ribu timin tampak nyaman terselip ditetek sriti
siang hari.. pada sabtu yang busuk dipojok pasar minggu
jika gabriel adalah sriti, maka bercintalah denganku
jika lucifer adalah timin, knapa hanya sepuluh ribu.. sobat?
aku tetap memaki dengan kalung berat yang berlabel cinta
kamis malam.. pada malam yang perih.. pojok kamar magenta
Hmm..
Ya begitulah puisi saya. Oiya ada teman-teman dari angkringan yang datang juga lho selain Donny. Ada Rapa yang juga ikut baca puisi, Ableh, Santent, Koebiz, Doneeh dan Dino, RayAstoAssasin dan Leah, Heri dan temannya, serta mas Iwan dan nyonyah. Tak lupa anak-anak FN yang datang mendukung Suryo.
Malam yang indah di Djendelo...
Ok, saya akan ngangkring dulu seperti biasa sampai azan subuh..

