Dan aku pun bahagia..
Friday, July 29, 2005
Kita akan memetik candu Di taman penuh buah beri
Hujan gerimis, edelweis merekah..
tari bidadari tebar embun tutup senja,
Bercanda gurau, berdesah manja...
hentak kakinya lincah di kelopak menguncup,
tapi ia hanya akan buatmu menari,
seperti ini dan kemudian syalala..
dan ku terbangun hampa,
tanpa bekas noda kau tiada...
----------------------------------------------
Feat. Maksim - Claudine
Gadis berkacamata itu sedang duduk manis di sofa arah jam sebelasku dari timur, langit mulai biru menghitam pada lantai dua itu, dan ahh.. segarnya ice chocolate ini. Sesaat kekaguman dan harapan kembali buat aku kembali tersenyum beberapa lama seperti minggu lalu saat pertama melihatnya. Tapi dalam hitungan sekon hanya entah dan kosong yang ada sambil kuterus pandangi jam sebelasku yang mulai bergerak naik arahnya dan aku masih tetap duduk manis mengagumi penuh entah sambil tetap tersenyum. Tak ada tirai hitam seperti dulu, tak ada penyesalan tentang siapa aku seperti dulu, tak ada mimik penuh kesal terpancar seperti dulu, sekarang yang ada hanya senyum untuk kemudian biasa. Ahh tuhan, kau baik sekali padaku. Akhirnya setelah 5 semester dalam ladang kecilmu aku kembali rasakan lembab karena setetes embun kasihmu. Yaaa.. aku kembali rasakan bagaimana harapan itu kembali ada, harapan untuk bersama seseorang, seseorang yang ikhlas merelakan tangannya untuk menamparku jika aku kembali mabuk, rintih canda saat kugigit lengannya, ahh.. terima kasih tuhan.. akhirnya aku bisa membayangkan itu kembali. Yaa.. walaupun hanya sekedar membayangkan, tapi aku bersyukur akhirnya aku bisa kembali rasakan rintik arti sebuah kasih. Yaaa.. ahhh.. aku beruntung. Walaupun emosi harap itu hanya sekedar iklan baris, tapi aku bersyukur bisa mendapatkannya di surat kabar yang kususun diantara huruf-huruf kapital dan sebuah tuntunan yang baku hampir selama tiga tahun ini. Yaaa.. aku bisa kembali rasakan cinta. Yaaa.. aku mencinta. Dan dari situlah timbul harapan kembali agar aku dicinta.. dicinta oleh sesamaku, tak harus sebaya, tapi mencintaku dan aku mencintanya penuh senyum dan sesekali melipatkan kedua tanganku dibahu untuk kemudian disandarinya penuh kasih sehingga untuk kemudian perlahan tanganku membuka dan memeluknya erat. Ahh.. sabarlah aku.. sabar.. mungkin masih butuh 5 semester lagi untuk dapatkan itu. Dan aku pun menikmati arti dari mencinta seseorang... dan aku masih akan berusaha sabar menunggu untuk dicinta... apa adanya.. tulus.. dan tersenyum. Teruntuk kucinta saat ini, ahh kau tetaplah indah walau dibalik dekapan orang lain. Dan harapanku ku pun bertambah berjuta akan hadirnya sang mencintaku nanti... mungkin 5 semester lagi.. dan mungkin saat itu telah senja bukan jam11 lagi, tapi aku berusaha tetap mensyukurinya. Kini.. yaa.. aku sendiri tapi aku punya harapan lagi tentang arti kasih kepada seseorang. Dan aku akan tetap berusaha menjaga rasa ini walaupun semester-semester lainnya akan kulalui dengan keadaan yang sama, tapi aku percaya nanti akan ada kata "ahh.. akhirnya... " terucap dari mulutku. Semoga aku bisa dapatkan itu saat semester pendek besok dari sang kuasa, yaahh.. aku berharap... lagi. Yaa... aku berharap segera wahai raja semesta, dan kuamini dengan senyum akan percaya.
Kau ingin menulis kisah penutup menjelang satu tahun kematianmu, sahabat? Aku hanya ingin menutupnya dengan cinta. Yaa.. dan 7 cintaku pun lengkap sudah kawan saat itu.. itu harapanku saat aku mati.

